Taman Nasional Tanjung Puting merupakan salah satu kawasan konservasi terpenting di Indonesia yang terletak di Kabupaten Kotawaringin Barat, Provinsi Kalimantan Tengah. Kawasan ini terkenal sebagai habitat alami orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) serta berbagai flora dan fauna khas hutan hujan tropis. Keindahan alamnya yang masih asri, sungai-sungai yang membelah hutan, serta kekayaan hayati menjadikan Tanjung Puting sebagai destinasi ekowisata unggulan Indonesia.

Sejarah dan Penetapan Kawasan
Tanjung Puting awalnya ditetapkan sebagai cagar alam pada tahun 1937 oleh pemerintah Hindia Belanda. Seiring dengan meningkatnya perhatian terhadap pelestarian alam dan keanekaragaman hayati, kawasan ini kemudian ditetapkan sebagai taman nasional pada tahun 1982. Sejak saat itu, Tanjung Puting berfungsi sebagai wilayah perlindungan ekosistem sekaligus pusat penelitian dan konservasi satwa liar, khususnya orangutan
Keanekaragaman Hayati
Taman Nasional Tanjung Puting memiliki ekosistem yang sangat beragam, mulai dari hutan rawa gambut, hutan mangrove, hutan pantai, hingga hutan dataran rendah. Kondisi ini mendukung kehidupan berbagai spesies flora dan fauna.
Satwa yang paling terkenal adalah orangutan, yang menjadi ikon taman nasional ini. Selain itu, terdapat pula bekantan, owa, beruang madu, macan dahan, rusa, dan berbagai jenis burung seperti rangkong serta bangau. Dari sisi flora, Tanjung Puting menjadi rumah bagi ratusan jenis tumbuhan, termasuk pohon ulin, ramin, dan berbagai tanaman obat tradisional.

Pusat Rehabilitasi Orangutan
Salah satu daya tarik utama Tanjung Puting adalah keberadaan pusat rehabilitasi orangutan, seperti Camp Leakey. Di tempat ini, orangutan yang sebelumnya dipelihara secara ilegal atau kehilangan habitatnya dilatih kembali agar dapat hidup mandiri di alam liar. Program rehabilitasi ini tidak hanya berperan dalam pelestarian spesies, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat dunia tentang pentingnya menjaga satwa liar dan ekosistem hutan.
Potensi Ekowisata
Taman Nasional Tanjung Puting dikenal sebagai destinasi ekowisata yang mengedepankan prinsip pelestarian alam. Wisatawan dapat menyusuri Sungai Sekonyer menggunakan perahu tradisional (klotok), mengamati orangutan dan satwa liar di habitat aslinya, serta menikmati suasana hutan tropis yang tenang dan alami. Kegiatan wisata yang dikembangkan bersifat ramah lingkungan, sehingga tidak merusak ekosistem yang ada.
Selain wisata alam, pengunjung juga dapat belajar tentang budaya masyarakat lokal yang hidup berdampingan dengan hutan. Hal ini menjadikan Tanjung Puting bukan hanya tempat rekreasi, tetapi juga sarana edukasi lingkungan.
Tantangan dan Upaya Pelestarian
Meski memiliki nilai ekologis yang tinggi, Taman Nasional Tanjung Puting menghadapi berbagai tantangan, seperti pembalakan liar, perambahan hutan, kebakaran lahan, dan konflik antara manusia dengan satwa liar. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, peneliti, serta masyarakat setempat bekerja sama dalam menjaga kawasan ini melalui patroli hutan, program rehabilitasi, edukasi lingkungan, dan pengembangan ekowisata berkelanjutan.

